Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan, agar perempuan lebih cakap menjalankan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. (Penggalan Surat R. A Kartini kepada Prof. Anton & Nyonya).
Penggalan surat di atas merupakan salah satu surat R. A Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Eropa yang kemudian pada tahun 1911 dibukukan di Belanda dengan judul Duisternis tot Licht (Dari Gelap Menuju Cahaya). Kemampuannya berbahasa asing dan kegemarannya menulis surat mampu menyuarakan pemikirannya: pentingnya pengajaran dan pendidikan yang layak bagi perempuan. Pemikirannya ini turut membuat Kartini menjadi icon pahlawan perempuan sepanjang masa di Indonesia bahkan diakui dunia internasional.
Dalam suratnya ia bercerita tentang permohonannya mengusahakan pengajaran dan pendidikan yang kerap dituding menyalahi dan melupakan kodrat perempuan: menjadi istri dan ibu dalam keluarga. Lewat surat pula ia menegaskan bahwa pengajaran dan pendidikan yang ia perjuangkan bagi anak-anak perempuan adalah semata-mata agar perempuan lebih cakap menjalankan kewajibannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.
Kartini dengan kedudukannya sebagai putri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seharusnya punya pengaruh kuat untuk melakukan apa-apa yang ia inginkan. Tetapi tidak untuk satu hal ini: pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan! Di masanya, anak-anak perempuan tidak diperkenankan untuk mengecap pendidikan layaknya lelaki. Anak-anak ini lebih banyak menghabiskan waktunya di dapur dan membatik.
Tidak ada yang salah dengan bekerja di dapur dan membatik, hanya saja ini persoalan kesempatan. Kesempatan untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas. Memang, wawasan tidak harus didapat dari bangku sekolah tetapi di sekolahlah ruang paling luas untuk merasai pengajaran dan pendidikan. Karena di sekolah pulalah: buku-buku, yang memuat tentang wawasan, itu dapat diperoleh. Itu yang tidak didapat oleh anak-anak perempuan di masanya!!! Dan itu yang Kartini usahakan: kesempatan bukan persamaan gender yang sering kali menjebak pada pemahaman emansipasi yang salah.
Sudah saatnya pemaknaan emansipasi dikembalikan pada substansinya, tidak sekedar terjebak dengan penuntutan persamaan. Seperti yang tertulis dalam suratnya: bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya…,… agar perempuan lebih cakap menjalankan kewajibannya. Tentu Kartini menginginkan perempuan lebih cakap menjalankan kewajibannya bukan mengalami kemunduran apalagi meninggalkan kewajiban tersebut.
Kini, kesempatan yang sama telah terbuka sangat lebar bagi perempuan untuk mendapatkan pengajaran dan pendidikan. Kesempatan yang sama ini pula mengantarkan perempuan untuk merasai berbagai peran yang semula hanya ditekuni laki-laki.
Jika Kartini dengan surat-suratnya berhasil mengantarkan perempuan keluar dari gelap menuju cahaya, tentu saja seharusnya Kartini-kartini muda saat ini dengan peran-peran yang dijalani mampu melebihi fase itu. Perempuan-perempuan dengan kesempatan tak terbatas, wawasan yang luas, pemikiran yang lugas, serta kemampuan yang cakap di bidangnya masing-masing tentu akan lebih berperan dalam menyuarakan perubahan dan perkembangan yang baik bagi dunia.
Namun begitu, bagaimanapun menariknya peran-peran yang ditekuni seorang perempuan tentu saja peran sebagai ibu: pendidik manusia yang pertama-tama adalah sebaik-baik peran. Untuk mendidik dan membesarkan generasi yang lebih bercahaya. Peran yang alam sendiri pun menyerahkannya pada tangan mulia bernama perempuan.
Dalam rangka mengikuti lomba essai peran wanita di era digital hasfapublisher dan hasfriends.
